Negara-negara Ini Kembangkan Kendaraan Bertenaga Listrik, Apa Faedahnya?

Posted on

Menurut dia, sosialisasi kendaraan berteknologi listrik perlu ditingkatkan agar masyarakat teredukasi. Misalnya, pemerintah mewajibkan para pengusaha buat menyandingkan kendaraan bertenaga listrik dengan kendaraan konvensional di showroom kendaraan.

Ilustrasi mobil listrik.The Guardian Ilustrasi mobil listrik.

Selain itu, perlu adanya kebijakan terkait pajak dan insentif lainnya serta subsidi buat industri dalam mengembangkan kendaraan bertenaga listrik.

”Masyarakat berharap harga kendaraan listrik tak lebih dari 1,1 kali harga kendaraan dengan mesin biasa. Bentuk insentifnya juga dapat ditambahkan dengan kebijakan diskon tarif listrik atau bebas ganjil genap atau dapat lewat busway,” ujar dia.

Satu hal yg tidak kalah penting, ia melanjutkan, industri membutuhkan kepastian hukum pengembangan kendaraan bertenaga listrik. Sayangnya, sampai ketika ini, regulasi yg dijanjikan terbit awal tahun dulu belum juga muncul.

Perjuangan mewujudkan impian memiliki kendaraan bertenaga listrik produksi dalam negeri memang belum usai. Upaya-upaya strategis mesti diambil guna mendukung pengurangan polusi udara dan penghematan energi lewat kendaraan bertenaga listrik.

India, Jepang, Thailand, Hongkong, bahkan Malaysia telah lebih lalu mengembangkan kendaraan bertenaga listrik. Untuk itu, Indonesia perlu melongok negara-negara yang lain yg sudah lebih awal bergerak dan mendukung pengembangan kendaraan bertenaga listrik dengan berbagai kebijakan.

India

Negara dengan populasi terbesar nomor beberapa dunia ini serius mengembangkan kendaraan bertenaga listrik.

(21/3/2019) melansir, jumlah penduduk negara ini mencapai 1,3 miliar pada 2017. Bahkan, PBB memprediksi jumlah populasi India bakal menyalip China pada 2027 mendatang.

Dengan populasi yg besar, India yaitu pasar otomotif terbesar kedua di Asia, setelah China. Sebagai pasar yg besar, India memiliki kebutuhan strategis.

Sejak 2013 pemerintah India menerbitkan kebijakan National Electric Mobility Mission Plan (NEMMP).

India menargetkan memproduksi mobil hibrida dan listrik sebesar 6 juta hingga 7 juta unit dengan level teknologi tertentu pada 2020.

Dukungan yg diberikan pemerintah negara itu bagi merealisasikan target tersebut yakni:

India memiliki program percepatan pembangunan industri otomotif berbasis listrik, dalam kerangka Faster Adoption and Manufacturing Electric/Hybrid Vehicle (FAME) sejak 2015.

Kedua, pemerintah India menargetkan 53 kota dengan populasi 1 juta jiwa lebih (konsensus 2011) mengadopsi industri kendaraan hibrida dan listrik.

Pemerintah India memberikan insentif kepada pembeli (konsumen) ke dua segmen kendaraan listrik, akan dari auto rickshaw (bajaj), sepeda motor, skuter, mobil, kendaraan niaga ringan, hingga bus.

Sepeda motor listrik EC-GO/Ruly Sepeda motor listrik EC-GO

Dalam sembilan tahun terakhir, total tercatat 4,5 juta unit sepeda motor listrik terjual di India. Kendati demikian, pasar di India memang belum seluruhnya menerima produk kendaraan berteknologi listrik dan mobil hibrida.

Pada perkembangannya, salah sesuatu produsen otomotif lokal di India memenangkan tender pemerintah buat memasok 10.000 unit mobil listrik.

Tak hanya itu, pabrikan otomotif yang berasal Korea Selatan tengah mempertimbangkan buat merakit secara lokal mobil listriknya di India, pada 2019.

Produsen otomotif lokal pun mengumumkan sudah menyiapkan dana 600 crore setara Rp 1,2 triliun buat pengembangan kendaraan listrik di India.

Bahkan, sejumlah produsen otomotif yang berasal Jepang sudah mengumumkan kerja sama buat mendorong penembangan mobil bertenaga listrik di India.

Malaysia

Pada 2020, pemerintah Malaysia menargetkan total populasi kendaraan bertenaga listrik yakni mobil 100.000 unit, sepeda motor 100.000 unit, dan bus 2.000 unit. Malaysia pun berambisi membangun 125.000 unit charging station.

Oleh karena itu, Malaysia memiliki kebijakan yg mendukung pengembangan kendaraan bertenaga listrik.

Pertama, pemerintah Malaysia membolehkan memberi pinjaman lunak senilai 7 miliar ringgit atau Rp 24,1 triliun buat perusahaan yg ingin mengembangkan industri kendaraan bertenaga listrik di negara itu.

Selain itu, pemerintah Malaysia memberi tax holiday atau pembebasan pajak buat perusahaan otomotif yg mau merakit lokal mobil hibrida dan listrik di Malaysia.

Pemerintah Malaysia pun menjalin kerja sama strategis dengan pabrikan kendaraan bertenaga listrik yang berasal Amerika Serikat. Malaysia mengimpor 100 unit kendaraan bagi melakukan edukasi publik tentang kendaraan bertenaga listrik. Berbagai mobil berteknologi listrik murni pun akan meluncur di Malaysia.

Thailand

Pemerintah Thailand menargetkan mendirikan 100 stasiun pengisian baterai dengan standar industri otomotif pada 2018.

Lantas, pada 2038, Thailand menargetkan jumlah populasi kendaraan hibrida dan listrik mencapai 1,2 juta unit.

Untuk itu, pemerintah Thailand pun menyiapkan sejumlah kebijakan pendukung.

Pada 2016-2017, memperkenalkan 20 bus listrik publik dan mengimpor 5.000 unit mobil listrik dengan kebijakan pembebasan pajak.

Langkah-langkah tersebut dikerjakan sebagai upaya sosialisasi pada masyarakat. Dengan edukasi tersebut, pemerintah Thailand berharap masyarakat paham tentang teknologi kendaraan bertenaga listrik, sebelum mau beralih menjadi pengguna.

Thailand memasang target investasi 600 miliar baht atau setara Rp 255, 8 triliun pada 2017. Investasi tersebut dialokasikan bagi mengembangkan proyek kendaraan hibrida dan listrik.

Ilustrasi mobil listrik Thailand.Bangkokpost.com Ilustrasi mobil listrik Thailand.

Pemerintah Negeri Gajah Putih itu juga membolehkan 100 persen kepemilikan lokal. Selain itu, Thailand membebaskan keharusan penyerapan konten lokal (komponen) serta kewajiban ekspor kendaraan.

Guna mendukung pengembangan kendaraan bertenaga listrik, Thailand membebaskan transaksi memakai nilai mata uang asing.

Iklim investasi juga dibuat semenarik mungkin dengan memberikan tax holiday pada Pajak Penghasilan Perusahaan. Kebijakan yang lain yg mendukung yakni penurunan impor duty (bea masuk) bagi barang modal (permesinan) dan bahan baku mentah.

Bahkan, pemerintah Thailand membebaskan pajak sama sekali khusus buat impor bahan baku mentah yg nantinya diekspor.

Pada 2018, salah sesuatu pabrikan otomotif yang berasal Eropa sudah mengumumkan berinvestasi buat memproduksi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) di Thailand.

Salah sesuatu perusahaan otomotif yang berasal Jepang akan mengimpor mobil listrik murninya buat dijual ke konsumen di Thailand. Produsen otomotif ini memanfaatkan insentif pajak yg diberikan pemerintah Thailand.

Nah, melihat upaya-upaya strategis negara-negara yang lain dalam mengembangkan kendaraan bertenaga listrik, bukan tidak mungkin Indonesia juga mengambil langkah-langkah serupa.

Kepastian hukum dan kebijakan yg kondusif untuk investor ketika ini sangat dinanti demi pengembangan kendaraan berteknologi listrik. Dengan begitu, Indonesia bukan hanya sebagai penonton, tapi juga mampu menikmati manfaat ekonomi dengan adanya industri kendaraan bertenaga listrik.

Sumber:

https://otomotif.kompas.com/read/2019/08/14/090000515/negara-negara-ini-kembangkan-kendaraan-bertenaga-listrik-apa-faedahnya-