Merawat Tradisi Di Kampung Naga

Posted on

Daun-daun itu diletakkan di dua titik seperti di setiap pojok sawah, atau di area tengah. Selain itu, petani juga harus membawa ampas dan sapu padi yg diletakkan di juru pupuhunan.

Kemudian, padi yg telah dipanen tak segera ditumbuk.

Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Padi tersebut kemudian dikumpulkan di ruang terbuka, kemudian para petani melakukan upacara ngaleseuhan yakni upacara pembacaan doa sebagai bentuk ucapan syukur kepada sang pencipta sebelum padi dinikmati oleh masyarakat.

Ketua Kepemanduan Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Ucu Suherlan mengungkapkan, masyarakat melakukan panen raya beberapa kali dalam setahun.

Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Biasanya, waktu tanam padi memakai sistem Januari-Juli. Terdapat sekitar lima hektare area persawahan di Naga.

Rata-rata produksi padi mencapai lima kilogram per bata (14 meter). Sementara, per kepala keluarga biasanya memiliki 30 bata.

Segala tradisi panen yg dikerjakan para petani Kampung adat Naga yaitu bentuk ungkapan syukur kepada Sang Pencipta.

Penduduk Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI Penduduk Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Bagi masyarakat Kampung Naga, padi diibaratkan sebagai perempuan. Seperti halnya perempuan hamil, sejak ketika padi ditanam hingga waktu panen, ritual doa menjadi tradisi yg wajib dikerjakan agar hasil panen bisa melimpah. (Adeng Bustomi)

Sumber:

https://travel.kompas.com/read/2019/02/06/093600327/merawat-tradisi-di-kampung-naga