Kisah Layar Tancap Keliling, Dari Masa Kejayaan Hingga Jadi Museum

Posted on

MALANG, – Perlengkapan layar tancap itu masih tertata rapi di ruangan seluas 15 x 8 meter di Jalan Soekarno Hatta Kota Malang, Rabu (14/2/2018). Jika ada pengunjung yg datang, proyektor layar tancap dinyalakan dengan koleksi film yg ada.

Praktis, suasana mulai terbawa ke masa silam. Masa di mana layar tancap masih menjadi idola di tengah masyarakat Indonesia.

Baca juga : Melalui Film, Nama Pulau Sumba Makin Populer

Namun, kejayaan layar tancap sudah hilang. Perkembangan teknologi membuat pertunjukan out door itu gulung tikar.

Sejumlah proyektor layar tancap yg ada di Indonesian Old Cinema Museum di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/2/2018)./ANDI HARTIK Sejumlah proyektor layar tancap yg ada di Indonesian Old Cinema Museum di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/2/2018).

Hingga akhirnya, Hariadi, seorang pengusaha layar tancap keliling di zamannya menyimpan rapi perlengkapan layar tancap yg telah tak terpakai di dalam sebuah ruang. Sekitar sesuatu tahun yg lalu, ruang sederhana itu diberi nama Indonesian Old Cinema Museum. Sebuah museum cinema pertama di Indonesia yg dikelola perseorangan.

Hariadi lantas menceritakan perjalanan dirinya menjadi pengusaha penyedia hiburan layar tancap keliling. Dalam kurun waktu 1977 hingga 1992, Hariadi sebagai penyedia jasa hiburan lacar tancap mengalami puncak kejayaan.

Sebanyak 45 proyektor yg dimilikinya tersebar ke sejumlah daerah di Jawa Timur. Setiap malam, proyektor itu nyala bagi memberikan hiburan di tengah-tengah masyarakat.

Rata-rata, penonton dalam sesuatu pertunjukan sebanyak 4.000 orang. Tak pelak, Hariadi mendapatkan untung berlimpah. Dalam semalam, ia dapat meraup hasil sebesar Rp 4 juta. Uang sebanyak itu cukup besar di masanya.

“Kita dahulu masuk ke pelosok yg tak pernah di masuki film. Waktu itu emas seharga Rp 20.000 per gram. Saya mampu mendapatkan hasil Rp 4 juta per hari,” katanya.

Baca juga : Sensasi Berjalan di Atas Jembatan Payung Kota Malang, Seru Banget!

Hariadi menyebut jasa hiburannya itu dengan Cinedex 14. Cinedex yaitu singkatan dari Cinema Gedex. Sedangkan gedex atau gedek yaitu dinding yg terbuat dari anyaman bambu.

Sejumlah proyektor layar tancap yg ada di Indonesian Old Cinema Museum di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/2/2018). / Andi Hartik Sejumlah proyektor layar tancap yg ada di Indonesian Old Cinema Museum di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/2/2018).

Biasanya, arena pertunjukan layar tancap miliknya terus dipagari dengan gedek. Masyarakat yg ingin menonton pertunjukan layar tancap itu dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp 100 hingga Rp 150.

“Waktu itu ramai sekali. Karena juga menjadi ajang rapat anak muda,” katanya.

Baca juga : Yang Baru di Rangkasbitung Banten, Yuk Main ke Museum Multatuli