Oh Snap!

Please turnoff your ad blocking mode for viewing your site content

Finance Highlights

Informasi Nasional Akurat Terpercaya

Malam Minggu Kelam Pasangan Yang Dituduh Berbuat Mesum Di Tangerang

/
/
/
77 Views

JAKARTA,  — Aksi main hakim sendiri kembali terjadi. Kali ini peristiwa itu menimpa R dan MA. Pasangan kekasih itu dianiaya, diarak, hingga dilucuti pakaiannya karena dianggap berbuat tidak senonoh di sebuah kontrakan di Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (11/11/2017).

Tak sampai disitu, warga yg menggerebek memvideokan keadaan sejoli itu ketika dianiaya dan dilucuti pakaiannya. Video itu disebarluaskan di media sosial.

Sontak aksi tidak terpuji itu menggegerkan warganet. Berdasarkan video yg viral itu, pihak kepolisian bergerak melakukan penyelidikan.

Kapolres Kabupaten Tangerang AKBP Sabilul Alif menegaskan, dari hasil penyelidikan, muda-mudi itu tidak terbukti berbuat mesum.

“Yang bersangkutan tak berbuat mesum dan memang yg bersangkutan adalah pacaran dan mulai langsung menikah,” ujar Sabilul, Selasa (14/11/2017).

Sabilul menceritakan, mulanya MA meminta dibawakan makanan oleh R. Permintaan perempuan pujaannya itu dituruti R. Dia datang di kontrakan kekasihnya sekitar pukul 22.00.

Begitu R datang, MA menyambutnya dan mempersilakan pacarnya itu masuk ke dalam kontrakannya bagi menyantap makan malam bersama. Saat itu, pintu kontrakan tidak ditutup rapat.

Seusai menyantap makan malam, pintu kontrakan MA digedor T selaku Ketua RT 007 Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang. T tidak tiba sendiri. Dia tiba bersama G dan A buat menggerebek pasangan itu.

Ketiganya memaksa masuk ke dalam kontrakan dan segera menuding R dan MA berbuat mesum.

“Keduanya dipaksa mengaku berbuat mesum. Tiga orang berinisial G, T, dan A memaksa laki-laki mengaku dan mencekik,” ucapnya.

Karena tidak berbuat seperti apa yg dituduhkan, R dan MA membantah tuduhan itu. Lantaran R dan MA tidak mau mengakau, G, T, dan A geram.

Ketiganya memaksa R dan MA keluar dari kontrakan dan membawanya ke rumah ketua RW. Keduanya dulu diarak.

 T sebagai ketua RT bukan menenangkan warganya, malah memprovokasi warga.

“T ini yg pertama mendobrak pintu, melakukan penggerebekan, dan memobilisasi massa. ‘Tolong ayo-ayo lihat sini, lihat sini, silakan yg mau foto, mau videokan’,” ujar Sabilul.

Pasangan kekasih itu diarak massa ke depan sebuah ruko yg berjarak sekitar 200 meter dari kontrakannya.

“Di situlah mereka dipaksa, ditempeleng, dan dipukuli buat mengaku. Bahkan, yg paling menyedihkan dari salah sesuatu ini membuka baju perempuan buat memaksa. Yang laki-laki melindungi dan telah tak memakai baju sama sekali,” kata Sabilul.

Seusai menganiaya dan melucuti pakaian R dan MA, warga membawa mereka ke rumah ketua RW. Seusai diinterogasi, R dan MA dipersilakan kembali ke rumah masing-masing.

Berdasarkan video penggerebekan yg viral itu, pihak polisi melakukan penyelidikan. Polisi mendatangi R dan MA buat mengecek kebenarannya.

Keduanya mengakui sudah menjadi korban perbuatan tidak terpuji dari sekelompok orang. Polisi akhirnya menangkap dan memutuskan enam tersangka dalam masalah itu.

Mereka adalah G, T, A, I, S, dan N. Mereka terancam dijerat Pasal 170 KUHP tentang Penganiayaan juncto Pasal 335 KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan dengan ancaman hukuman 5tahun penjara.

Polisi masih memburu pelaku lain, termasuk orang yg mengunggah dan menyebarluaskan video penggerebekan itu. Sejauh ini, telah ada empat akun YouTube yg ditutup karena mengunggah video itu.

Aksi tidak terpuji itu mendapat kecaman dari sejumlah pihak, salah satunya oleh Institute for Criminal Justice Reform (ICJR).

Peneliti ICJR, Maidina Rahmawati, menyebutkan, aksi tersebut brutal dan patut diganjar dengan pidana berlapis.

“Apa yg dikerjakan warga Cikupa tersebut sudah melanggar hak atas privasi pasangan yg bersangkutan dan dikerjakan tanpa hak dan wewenang apa pun. Padahal, diketahui tak ada perbuatan apa pun terkait dengan kesusilaan yg dikerjakan pasangan tersebut,” ujar Maidina dalam informasi tertulis, Selasa (14/11/2017).

Menurut Maidina, tindakan warga yg main hakim sendiri atau persekusi tersebut mampu diganjar dengan tindak pidana kesusilaan di depan umum sesuai Pasal 282 Ayat (1) KUHP dan Pasal 35 UU Pornografi tentang menjadikan orang yang lain obyek atau model yg bermuatan pornografi. Sayangnya, penerapan kedua pasal itu berpotensi menyerang balik korban.

Maidina menilai fakta itu seharusnya menjadi pertimbangan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat yg tengah membahas Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKHUP) di Parlemen. Beberapa pasal dalam RKUHP, khsusunya mengenai tindak pidana kesusilaan, kata Maidina, justru membuka kesempatan main hakim sendiri oleh warga.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber:

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/11/15/06205061/malam-minggu-kelam-pasangan-yang-dituduh-berbuat-mesum-di-tangerang

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

It is main inner container footer text