Kenapa Beli Mobil Harus Bawa Surat Keterangan Punya Garasi?

40 views

title

TOPIK populer belakangan ini adalah munculnya sebuah peraturan tentang tata cara beli mobil merupakan harus menyertakan "surat pernyataan milik garasi". Dari berbagai respons yg muncul, dalam garis besarnya terus ada beberapa kubu yg kontra dan pro.   

Bagi yg setuju, pada umumnya mewakili mereka yg merasa sangat terganggu selama ini dengan mobil. Mereka adalah yg ruang publik di sekitar kediamannya banyak dipergunakan bagi parkir mobil para tetangga yg tak memiliki garasi.   

Sedangkan mereka yg tak setuju adalah sangat keberatan dengan aturan tersebut, merupakan mengapa beli mobil harus bawa surat informasi milik garasi? Apakah berikutnya nanti mulai keluar pula sebuah aturan buat mereka yg mulai membeli pakaian harus membawa juga surat pernyataan memiliki lemari pakaian?  

Intinya adalah peraturan tersebut sangat tak logis. Mereka menekankan, tentang mengapa yg membeli mobil yg harus dibatasi, sementara sang penjual mobil berada dalam ruangan yg sangat bebas?

Terlepas dari pro dan kontra persoalan aturan tersebut, sebenarnya ada sebuah pelajaran yg menarik yg bisa diperoleh dari keluarnya aturan tersebut. Sebuah pemikiran tentang betapa banyak sekali hubungannya antara mobil dengan garasi dan ruang publik.   

Ada sebuah jaring penghubung yg semakin lama menjadi semakin erat dan meeting yg kemudian memunculkan permasalahan serius. Apabila hal ini didalami lebih jauh lagi, maka sebenarnya masyarakat para pengguna mobil dan otoritas pemerintah pengelola ruang publik secara tak segera mendapatkan pelajaran betapa produk teknologi ternyata memang tak dapat ditangani secara sepotong-sepotong.  

Contoh sederhana yg mampu disajikan adalah tentang sebuah tulisan menarik mengenai kisah seorang miliarder yg menginginkan dan kemudian berhasil memiliki "private luxury jet aircraft", pesawat terbang jet mewah pribadi.

Saat ditanyakan kepadanya, kapan ketika yg paling berbahagia berkenaan dengan "private jet" yg Anda miliki? Jawabannya sangat mengejutkan. Dia menyampaikan bahwa ketika yg paling membahagiakan adalah di kala sang "private jet" telah laku terjual lagi.   

Jawaban singkat yg mengandung banyak makna. Ternyata bukan soal pengeluaran uang yg tinggi, mulai tapi lebih kepada "kurangnya pengetahuan" yg dimilikinya tentang pesawat terbang.

Sang miliarder ternyata baru tahu bahwa memiliki sebuah jet pribadi tak berarti dia mampu berangkat setiap ketika dia mau bepergian. Pesawat terbang ternyata memiliki prosedur standar dari penggunaan yg sangat bergantung kepada jam terbang yg mulai digunakan.  

Berikutnya lagi, Ia juga baru tahu bahwa pesawat terbang tak cukup buat isi oli dan isi bahan bakar kemudian terbang. Pesawat terbang ternyata milik standar siklus perawatan yg rada rumit berkenaan dengan mesin dan peralatan navigasi serta kerangka pesawat beserta sistem air conditioning di cabin dan lain-lainnya.   

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-ad-210346665559669319-411'); });

Pesawat terbang ternyata memerlukan pilot yg setiap 6 bulan harus dicek ulang keterampilannya dan juga dicek ulang keadaan kesehatannya. Sang Pilot ternyata juga harus melaksanakan "refreshing training" bila pada kurun waktu tertentu tak terbang alias nganggur.

Pilot ternyata harus mempersiapkan terlebih lalu pesawat terbang yg mulai digunakan bagi terbang, bersama dengan petugas teknik yg bertanggung jawab terhadap kesiapan pesawat bagi terbang. Pendeknya "sangat ribet", jauh di luar perkiraannya yg mengira bahwa milik pesawat terbang sendiri menjadi lebih mudah.

Akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa jauh lebih "simple" bepergian dengan maskapai penerbangan saja. Maka dijuallah pesawat terbang jet mewah pribadi yg ternyata cuma membuat pusing belaka.

Menjual pesawat terbang ternyata juga baru diketahui bahwa tak mudah, maka jadilah ketika yg paling berbahagia adalah pada ketika sang pesawat terbang "laku-terjual kembali".

Itu segala sekadar gambaran bahwa ternyata dalam abad teknologi ini, segala keputusan yg diambil harus berkolerasi erat dan berlandas kepada knowledge. Pengambilan keputusan tanpa memiliki cukup pengetahuan yg melatarbelakanginya, dipastikan mulai menghasilkan sebuah keadaan yg "chaotic" alias amburadul.   

Contoh ekstrim dari hal ini adalah peran CEO dari pabrik pesawat terbang dan atau CEO dari maskapai penerbangan serta juga pemegang otoritas penerbangan.  Penerbangan adalah refleksi dari ujud kemajuan teknologi yg membutuhkan pengetahuan mendalam bagi mampu sukses dalam mengelolanya.   

Mereka yg sukses adalah mereka yg pasti memiliki "aviation background knowledge" yg cukup, atau mereka yg memiliki tim solid dalam jajaran manajemennya yg menguasai dengan baik pengetahuan tentang penerbangan. Sejarah mencatat tentang banyak hal tentang itu semua.

Jadi sekali lagi, mengapa beli mobil harus membawa surat pernyataan milik garasi di rumah, itu adalah "pelajaran mahal" dari sebuah perjalanan panjang pengelolaan yg kurang ditopang oleh latar belakang pengetahuan yg cukup. Kita segala harus mau peduli terhadap fenomena ini.

Seorang Novelis kenamaan bernama William Thomas Gaddis menyampaikan bahwa: "Kebodohan adalah hasil dari sebuah pengembangan yg tak disengaja dari sebuah ketidakpedulian."

Sumber:

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/09/17/07241261/kenapa-beli-mobil-harus-bawa-surat-keterangan-punya-garasi

title

Tags: #Nasional

Leave a reply "Kenapa Beli Mobil Harus Bawa Surat Keterangan Punya Garasi?"

Author: 
    author